Sabtu, 25 Mei 2013

BPKI PEMOTIVASIAN DALAM KEWIRAUSAHAAN



PEMOTIVASIAN DALAM KEWIRAUSAHAAN



Makalah ini diajukan untuk memenuhi syarat ujian  akhir semester, semester
                    ganjil ,mata kuliah Bimbingan Penulisan Karya Ilmiah, program
                         studi ekonomi syariah, kelompok lima (5), jurusan syariah
                                             Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
 (STAIN)Watampone.




Disusun  Oleh :

ST.ATIRAH
NIM : 01123105





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE

2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kewirausahaan (entrepreneurship) adalah menciptakan sesuatu yang bernilai  yang memiliki inovasi dan  kreativitas tersendiri yang mencurahkan waktu dan usaha yang diperlukan, menanggung risiko  keuangan, pisik dan social, serta mampu menerima hasil berupa ganjaran monoter dan kepuasan  dan independensi pribadi.
Kewirausahaan telah menjadi pengetahuan umum, bahwa kewirausahaan merupakan penggerak utama dalam perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi salah satunya terletak di tangan para wirausahawan dimana mereka merupakan orang-orang yang dinamis yang mampu  berkomitmen untuk meraih kesuksesan dengan menciptakan serta memasarkan berbagai produk dan jasa yang inovatif yang tujuan utamanya yaitu untuk pelanggan..[1]

Untuk melancarkan kegiatan kewirausahaan diperlukan adanya motivasi yang dimulai dari momotivasi diri untuk sukses dan memiliki cita-cita yang kuat untuk mewujudkan mimpinya dengan bekerja keras.
 ‘Pada prinsipnya seorang entrepreneur harus melakukan berbagai hal dalam kapasitasnya sebagai inisiator sebuah bisnis diantaranya:  tawar menawar dengan serikat pekerja, membangun jaringan kredit dengan dunia perbankan, melakukan transaksi-transaksi real estate (tanah, bangunan perkantoran, bangunan pabrik dll.), menyewa tenaga ahli dalam proses produksi dan pemasaran dll’. [2]
Menjadi seorang wirausahawan menjanjikan hasil yang terbaik tergantung dari orang yang terjun dalam dunia usaha tersebut, yang tentunya harus disertai dengan pemotivasian. Banyak orang yang ingin berkiprah didunia kewirausahaan tetapi keinginannya itu tidak dapat terwujud disebabkan karena pomotivasiannya tidak ada, serta tidak adanya cita-cita yang kuat untuk menjadi pengusaha yang sukses,
‘ Motivasi melahirkan ilmu ekonomi. Jadi, motivasi yang melahirkan ilmu ekonomi ialah masalah pemenuhan kebutuhan manusia atau singkatnya masalah untuk mencapai kemakmuran’.[3] Sebagian orang mungkin memilih untuk menjadi pegawai negeri  sipil (PNS), Sebagian lagi memilih menjadi pegawai swasta professional yang umumnya menjanjikan gaji besar, tunjangan dan fasilitas lain yang menarik. Namun, mengapa hanya sedikit yang memilih untuk jadi pengusaha (wirausahawan), mungkin karena penghasilan tidak menentu, resiko terlalu besar, dan alasan yang paling mendasar yaitu tidak mempunyai modal. Berdasarkan realita yang ada ternyata menjadi pengusaha menjanjikan masa depan yang sangat cemerlang, penghasilan tidak terbatas dan mengatur waktunya sendiri.
Dengan demikian, menjadi seorang wirausahawan sangat dibutuhkan, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga merupakan suatu hal yang sangat penting untuk pengabdian kepada nusa dan bangsa untuk menciptakan lapangan kerja bagi orang lain, Untuk itu diperlukan adanya pemotivasian yang tepat dalam dunia kewirausahaan agar harapan dan kenyataan terlaksana dengan baik serta diperlukan adanya motivasi yang kuat untuk menjadi pengusaha yang sukses yang akan berdampak pada tindakan.
B.  RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

1.      Rumusan Masalah
    Berdasarakan latar belakang diatas maka penulis dapat merumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1.      Apa Pengertian Kewirausahaan ?
2.      Bagaimanakah  Motivasi  Kewirausahaan yang Sukses?
3.      Bagaimana Ciri dan Sikap Wirausahawan dalam Membangun Kewirausahaan ?
2.      Batasan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penulis hanya membatasi masalah terkait, apa pengertian kewirausahaan, bagaimanakah motivasi kewirausahaan yang sesungguhnya serta bagaimana ciri dan sikap wirausahawan dalam membangun kewirausahaan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Kewirausahaan
Untuk mengetahui defenisi kewirausahaan, berikut ini adalah beberapa defenisi menurut beberapa ahli:
‘Wirausahawan adalah orang yang memiliki pandangan yang tidak lazim, yaitu orang yang dapat mengenali potensi atas barang dan jasa. Wirausahawan akan bereaksi terhadap perubahan ekonomi dan kemudian menjadi pelaku dalam mengubah permintaan menjadi produksi’.[4]
‘Wirausahawan adalah seseorang yang menemukan  gagasan baru dan selalu berusaha menggunakan sumber daya yang dimiliki secara optimal untuk mencapai tingkat keuntungan tertinggi’.[5]
‘Kewirausahaan adalah suatu tindakan yang manusiawi dan kreatif yaitu membangun suatu nilai dari sesuatu yang praktis tidak ada’.[6]
‘Kewirausahaan adalah suatu profesi yang timbul karena interaksi antara ilmu pengetahuan yang timbul karena interaksi antara ilmu pengetahuan yang dapat digali dari rangkaian kerja yang diberikan dalam praktik’.[7]
‘Wirausahawan berarti orang  yang memiliki keberanian untuk berusaha guna memenuhi kebutuhan hidupnya’.[8]
‘Kewirausahaan adalah pencarian peluang tanpa sumber daya atau dengan sumber daya terbatas sekalipun’.[9]
‘Wirausahawan adalah orang yang dapat melihat cara-cara yang ekstrem dan mau mengubah sesuatu yang tak bernilai rendah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi (misalnya dari terigu menjadi roti bakar yang lezat) dengan cara memberikan nilai yang baru ke barang tersebut untuk memenuhi kebutuhan manusia . Apabila suatu nilai ditambahkan kedalam suatu produk/barang, maka akan didapatkan keuntungan.[10]
Penulis dapat menyimpulkan dari beberapa pendapat diatas terkait kewirausahaan bahwa kewirausahaan adalah suatu cara atau pola yang dilakukan seseorang untuk menciptakan suatu karya yang baru dan berusaha menghasilkan karya yang bernilai tinggi atau kreatif. Dimana ciri umum dari seorang wirausahawan yaitu kemampuan yang dimiliki yang tentunya dapat merubah sesuatu menjadi karya yang lebih baik atau berjiwa kreatif dan inovatif serta tidak lantas puas menerima hasil yang telah dicapai tetapi terus berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang lebih dan lebih yang menuntut perbaikan dan penyempurnaan bahkan selalu gelisah untuk memikirkan kemajuan dan pembaruan yang tentunya hal demikian diperlukan kerja keras dengan perencanaan dan persiapan yang matang untuk mengurangi resiko yang ada agar mampu mengendalikan nasib dari visi kaum entrepreneur (wirausahawan) itu sendiri, kerja keras akan membawa kita mencapai keberhasilan, adapun kepandaian dan factor-faktor lainnya hanya sebatas factor pendukung. Untuk itu bekerja keraslah, untuk mencapai kesuksesan.

B.  Motivasi Kewirausahaan yang Sukses
1.Mengalahkan Mitos
Segudang prestasi didapatkan melalui belajar dan kerja keras yang didorong oleh motivasi diri yang sangat kuat sejak masa remaja, bahkan pendidikan merupakan salah satu kunci kesuksesan yang dapat membuat kita keluar dari kesulitan dan dapat memberikan pengetahuan yang lebih dalam meraih keberhasilan usaha. Oleh karena itu jangan percaya terhadap mitos-mitos seputar wirausaha, contohnya ada yang mengatakan bahwa seorang yang terjun atau mampu dalam berwirausaha itu karena keturunan atau karena banyak uang. Semua hal tersebut hanya karena kurangnya pemahaman kita tentang kewirausahaan. Padahal sebenarnya yang menjadi penentu keberhasilan dalam berbisnis dan hidup bermasyarakat itu adalaha akal pikiran, karsa, semangat, kesempatan, waktu, pendidikan dan pengalaman.
Telah banyak riset para peneliti untuk memahami munculnya kewirausahaan, yang hasilnya memberikan fakta dan bukan merupakan opini bahwa mitos-mitos tersebut yang ada jangan dipercaya, adapun beberapa mitos yang sering muncul d tengah-tengah ikalangan masyarakat terkait kewirausahaan :
Ø  Mitos: Wirausaha merupakan bakat dan keturunan
Bakat memang membantu seseorang menjadi pengusaha tetapi bakat bukan menjadi penentu untuk menjadi pengusaha, namun realita yang ada banyak pengusaha yang sukses diawali dengan keterpaksaan dan kondisi hidup yang sulit serta banyak pula pengusaha yang sukses bukan karena keturunan, contohnya pemilik Griya Bersih Sehat Ir. Haryono, yang mengembangkan usahanya bukan karena berasal dari keturunan keluarga pengusaha.[11]

Ø  Mitos: Pengusaha adalah pelaku bukan pemikir
Banyak orang yang beranggapan bahwa seorang pengusaha itu hanya bertugas sebagai pelaku yang terjun langsung ke lapangan untuk melaksanakan tugasnya untuk berwirausaha, padahal sebenarnya selain pengusaha itu sebagai pelaku dia juga sekaligus menjadi pemikir. Dimana seorang yang terjun ke dunia kewirausahaan diperlukan pemikiran yang disertai strategi, taktik dan cara yang penuh pemikiran yang mendalam.
Ø  Mitos: Wirausaha tidak bisa diajarkan atau dibentuk
Kewirausahaan tidak berbeda dengan ilmu lain, dimana kewirausahaan juga membutuhkan model, proses dan studi kasus  yang menjelaskan bahwa kewirausahaan sebenarnya dapat diciptakan dalam artian dapat dibentuk. Ada banyak  ciri-ciri kewirausahaan yang dapat diajarkan diantaranya yaitu keagresifan prakarsa, pengarah, kesanggupan menanggung resiko, kemampuan analisis dan keterampilan dalam hubungan antar manusia. Sebagai contoh banyak seorang pengusaha sukses yang mau dan mampu untuk membagi ilmunya serta pengalamannya dalam berbisnis, hal tersebut membuktikan bahwa wirausaha itu sebenarnya bisa diajarkan atau dibentuk.
Ø  Mitos: Pengusaha adalah selalu sebagai investor
Anggapan yang menyatakan bahwa seorang pengusaha adalah  yang bertindak sebagai investor ( orang yang menyetorkan modalnya), tidak salah akan tetapi apabila hal tersebut dianggap sebagai satu-satunya, maka hal tersebut sudah dinyatakan salah, sebab selain menjadi investor seorang pengusaha juga harus  memiliki perilaku yang inovatif. Karena realita yang ada banyak pengusaha yang awalnya hanya sebagai investor, akan tetapi berkat  kerja kerasnya yang dibarengi prilaku inofativ sehingga ia dapat sukses dalam dunia kewirausahaan.
Ø  Mitos: Pengusaha membutuhkan  keberuntungan
Dalam kehidupan sehari-hari tepatnya pada tempat dan waktu yang tepat selalu terdapat keberuntungan, dimana keberuntungan itu dating apabila ada peluang kemudian peluang itu dipersiapkan dengan baik. Dengan adanya peluang seringkali dianggap sebagai keberuntungan, Tetapi keberuntungan itu akan lebih baik apabila dipersiapkan dengan baik, penetapan tujuan, keinginan yang kuat, inovasi yang dikemas secara cemerlang, jadi pengusaha itu bukan hanya membutuhkan keberuntungan tetapi juga diperlukan persiapan yang cemerlang.
Ø  Mitos: Pengusaha harus sukses dan tidak boleh gagal
Persepsi yang menyatakan seperti ini sebenarnya keliru, karena sebenarnya banyak pengusaha yang meraih kesuksesan justru sebelumnya mereka mengalami kegagalan. Kegagalan merupakan suatu yang wajar apabila menjadi seorang pengusaha selagi kita terus mencoba dan mencoba dan terus melakukan pembaharuan maka kesuksesan akan datang.
2.Mengubah Pola Pikir
Merubah sesuatu yang sudah menjadi suatu kebiasaan itu sangat sulit serta membutuhkan kerja keras yang tentunya membutuhkan banyak pengorbanan, apalagi terkait masalah pola pikir.
Sudah menjadi kodrat bahwa perubahan itu terjadi secara alamiah dalam diri manusia bukan hanya itu tetapi ada juga yang revolusioner maupun evolusi, jadi perubahan bukan merupakan suatu hal yang menakutkan dan membahayakan.
Mengubah pola pikir tentunya membutuhkan kerelaan dan keberanian tersendiri yang tentunya harus dibarengi dengan pola pikir yang terbaik serta perencanaan yang strategic serta kejelian tersendiri dalam menangkap aspek-aspek tertentu.
‘Dengan bahasa yang tegas, Dr. Rhenald kasali, pakar manajemen Universitas Indonesia, pernah mengatakan “berubah atau mati” ia memberikan sinyal bahwa setiap pengusaha yang mau tetap bertahan harus melakukan perubahan demi perubahan atau akan tertinggal dari para pesaingnya’.[12]
Hidup di dunia ini dubutuhkan perubahan terutama dalam hal perubahan pola pikir yang hasilnya akan berdampak pada pengaplikasian dari hasil perubahan pola pikir, begitu pula dengan pengusaha yang terjun dalam dunia kewirausahaan harus merubah pola pikirnya, misalnya saja seorang pengusaha tidak boleh terjebak hanya menjalankan bisnis kecil dengan pola manajemen tradisional dan tidak bisa berkembang hal tersebut  dapat dilakukan dengan mengubah cara pandang dan mulai berfikir mengenai pola pikir kewirausahaan yang biasa disebut dengan entrepreneurial –mindset. Sekarang jaman sudah semakin modern dimana hal tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari, dengan merubah pola pikir maka ketidak pastian itulah yang bisa dijadikan keberuntungan tersendiri.
Jadi mengubah pola pikir sangat dibutuhkan sebagai motivasi dalam kewirausahaan yang disertai dengan pola pikir yang penuh kejelian yang dapat menghasilkan sesuatu yang terbaik yang dapat menunjang keberhasilan terutama keberhasilan dalam kewirausahaan.
3.Motivasi Berprestasi
Kelemahan dan kekuatan sangat penting untuk diketahui terlebih lagi apabila kita adalah seorang pengusaha, setiap manusia memiliki kelemahan dan kekuatan  maka apabila kelemahan itu ditutupi dengan menonjolkan kekuatan maka hal tersebut akan sangat baik, dimana kelemahan dan kekuatanlah merupakan factor tercapainya cita-cita dan tujuan. Apabila seseorang meyakini bahwa ia mampu mengelolah dengan baik kelemahan dan kekuatan yang dimiliki maka hal tersebut dapat menghasilkan prestasi. Tentunya prestasi akan tercapai dengan usaha keras yang desertai dengan manajemen yang baik dalam mengembangkan kekuatan yang ada.
Seseorang yang berhasil dalam dunia kewirausahaan dapat dikatan karena ia memiliki motif yaitu motif berprestasi, dimana motif berprestasi adalah suatu nilai sosial yang menekankan dan menuntut untuk mencapai hasil yang terbaik untuk memperoleh kepuasan pribadi.
Motivasi berprestasi sangat dibutuhkan dalam berwirausaha karena dengan adanya motifasi berprestasi akan mengasilkan hal-hal sebagai berikut:
a.       Senang menetapkan sasaran kerja yang menantang.
b.      Selalu merasa bahwa apapun yang terjadi sebagian besar menjadi tanggung jawabnya.
c.       Dalam bekerja selalu ingin memperoleh umpan balik
Jadi motivasi berprestasi itu sangat penting karena akan menghasilkan sesuatu yang terbaik.
4.Memanfaatkan Kekuatan Pikiran Bawah Sadar
Secara sadar atau tidak apa yang terjadi hari ini sebenarnya merupakan suatu proses dari alam bawah sadar, banyak orang yang tidak menyadari bahwa menggunakan dan mengelolah alam bawah sadar sebenarnya akan menghasilkan kekuatan yang luar biasa
‘George W. Ladd seorang ahli ekonomi dari Lowa State University Dengan bukunya Artistic Research Tools For Scientific Minds, mengemukakan bahwa suatu pemikiran yang menarik melalui proses mental bawah sadar berupa imajinasi dan intuisi yang dapat membantu kemajuan usaha’.[13]
Pikiran manusia ada 2 yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, dimana pikiran bawah sadar memiliki kekuatan yang sangat besar, pikiran bawah sadar mampu mengontrol tindakan secara otomatis tetapi apabila pikiran yang dibawah kedalam alam bawah sadar maka hasilnya juga akan terjadi suatu tindakan yang keliru.
Maka apabila anda ingin menjadi pengusaha sukses maka yakinkalah hal tersebut dengan seyakinyakinya maka hasilnya juga akan positif karena dengan keyakinan tersebut maka kita akan melakukan berbagai  upaya  untuk merahihnya.maka sebenarnya pikiran bawah sadar sangat menentukan kehidupan ini.
C.    Ciri dan Sikap Wirausahawan dalam Membangun Kewirausahaan
Ciri-ciri wirausahawan dalam membangun kewirausahaan :
‘1.Berani mengambil risiko yang ditunjang oleh kemampuan memperhitungkan akibatnya dan berusaha menghindarinya.
2.Selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk pelanggan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa dan Negara.
3.Antisipatif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan.
4.Kreatif dalam mencari dan menciptakan peluang pasar, serta dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
5.Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui investasi baru di berbagai bidang’. [14]

Adapun sikap wirausahawan dalam membangun kewirausahaan sebagai berikut:
1.      Disiplin

Seorang wirausahawan harus memiliki disiplin yang tinggi yaitu ketetapan komitmen wirausahawan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya.
2.      Komitmen Tinggi
Dalam melaksanakan kegiatannya seorang wirausahawan harus memiliki komitmen yang jelas, terarah dan bersifat progresif.
3.      Jujur
Kejujuran terkadang dilupakan oleh seseorang yang bergelut di dunia kewirausahaan baik karakteristik produk yang ditawarkan, kejujuran mengenai segala kegiatan yang berkaitan dengan produk yang ditawarkan dan lain-lain.
4.      Kreatif dan Inovatif
Seorang wirausahawan harus kreatif dan inovatif yang dilandasi dengan cara berfikir yang maju dan penuh dengan ide-ide baru.
5.      Mandiri
Kemandirian merupakan karakteristik yang harus dimiliki oleh wirausahawan dalam melakukan kegiatan usahanya.
6.      Realistis
Sikap realistis penting dimiliki oleh kaum wirausahawan yang merupakan penunjang keberhasilan usaha, yang berarti mampu menggunakan fakta atau realita yang ada sebagai landasan berfikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan atau perbuatannya.

BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
1.   Kewirausahaan adalah suatu cara atau pola yang dilakukan seseorang untuk menciptakan suatu karya yang baru dan berusaha menghasilkan karya yang bernilai tinggi atau kreatif.
2.     Motivasi kewirausahaan yang sukses yaitu mengalahkan mitos, mengubah pola pikir, motivasi berprestasi, memanfaatkan kekuatan pikiran bawah sadar.
3.      Ciri dan Sikap Wirausahawan dalam Membangun Kewirausahaan yaitu berani mengambil risiko, selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik, Antisipatif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan,Kreatif dalam mencari dan menciptakan peluang pasar, serta dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi,selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui investasi baru di berbagai bidang, sikap wirausahaan yaitu disiplin, komitmen tinggi, jujur, kreatif dan inovatif, mandiri, realistis.



DAFTAR PUSTAKA

Hadiwanata, Sugeng, Bisnis Politik Internasional, Cet. 5 ; Yogyakarta : Kanisius, 2002

Ilyas, Baharuddin dan Muhammad Arif Tiro, Metodologi Penelitian, Cet. 1 ; Makassar : Andira Publisher, 2002
Rasyid, Sudradjat, dkk, Kewirausahaan Santri, [t. Cet] ; Jakarta Timur : PT. Citrayudha Alamanda Perdana, 2005

Suharyadi, dkk, Kewirausahaan, Cet. II ; Jakarta : Salemba Empat, 2008
Sukardi, Ekonomi, [t. Cet] ; Jakarta : Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2009

Tunggal, Amin Widjaja, Manajemen Kewirausahaan, [t. Cet] ; Jakarta : Harvarindo, 2008.
Zimmerer, Thomas W, dkk, Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil, Ed. 5, [t. Cet] ; Jakarta : Salemba Empat, 2009


[1] Thomas W. Zimmerer, dkk, Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil, Ed. 5, ([t. Cet] ; Jakarta : Salemba Empat, 2009), h. xi
[2] Sugeng Hadiwanata, Bisnis Politik Internasional, (Cet. 5 ; Yogyakarta : Kanisius, 2002),

 h. 107
[3] Baharuddin Ilyas dan Muhammad Arif Tiro, Metodologi Penelitian, (Cet. 1 ; Makassar : Andira Publisher, 2002), h. 5
[4] Suharyadi, dkk, Kewirausahaan, (Cet. II ; Jakarta : Salemba Empat, 2008), h. 7

[5] Ibid

[6]Amin Widjaja Tunggal, Manajemen Kewirausahaan, ([t. Cet] ; Jakarta : Harvarindo, 2008), h. 4
[7] Sukardi, Ekonomi, ([t. Cet] ; Jakarta : Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional,

2009), h. 120

[8] Sudradjat Rasyid, dkk, Kewirausahaan Santri, ([t. Cet] ; Jakarta Timur : PT. Citrayudha Alamanda Perdana, 2005), h. 5
[9] Amin Widjaja Tunggal, Loc. Cit

[10] Suharyadi, dkk, Loc. Cit
[11] Ibid, h. 67
[12]  Suharyadi, dkk, Op. Cit, h. 69
[13] Suharyadi, dkk, Op. Cit, h. 73

[14] Sukardi, Op. Cit, h. 124